FISIP Unila Adakan Seminar Bahas Literasi Digital dan Society 5.0 Peluang Serta Tantangan Bagi Perguruan Tinggi

  • Post author:
  • Post last modified:2022-06-21

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung (Unila) menggelar seminar dengan tema Literasi Digital dan Society 5.0 Peluang dan Tantangan Bagi Perguruan Tinggi. Seminar kali ini dilaksanakan secara offline yang berlokasi di Gedung D lantai 3 FISIP Unila, pada Selasa (21/6/2022), pukul 13.00 s.d. selesai.

Adapun tujuan diadakannya seminar ini adalah untuk memberikan edukasi terhadap lingkungan perguruan tinggi terutama pada mahasiswa terkait kemampuan digital dalam bermedia sosial.

Acara seminar tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan 1 Bidang Akademik dan Kerjasama FISIP Unila, Dr. Dedy Hermawan, M.Si. yang dalam sambutannya mengatakan terkait digitalisasi berhubungan erat hubungannya dengan kondisi masa kini, sesuai dengan temanya.

“Menghubungkan antara dunia nyata dan digital, maka society mulai bergeser. Muncul istilah society 5.0 dengan menyebutnya masyarakat digital atau digital society. Dimana tempatnya di cyber space, untuk interaksi, komunikasi, polanya sudah berubah,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa manusia kini hidup dalam dua dunia diakibatkan adanya kemunculan teknologi.

“Kini kita bermain di dalam dua dunia, satu dunia cyber dan nyata, dinamakan digital twin technology,” imbuhnya.

Kemudian acara dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata oleh Dekan 1 Bidang Akademik dan Kerja Sama FISIP Unila, Dr. Dedy Hermawan, M.Si. kepada Dr. Eng. Hary Budiarto M.Kom., IPM. yang merupakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Pada acara ini menghadirkan satu pembicara yakni Dr. Eng. Hary Budiarto M.Kom., IPM. yang merupakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Komunikasi dan Informatika. Acara ini di moderatori oleh M. Guntur Purbaya, S. Sos., M.Si., selaku Dosen Sosiologi FISIP Unila.

Dr. Eng. Hary Budiarto M.Kom., IPM., membawakan materi mengenai literasi digital dan society 5.0 yang bisa menjadi peluang besar sekaligus menjadi tantangan bagi perguruan tinggi. Di mana sebelum menuju revolusi industri 5.0, tentunya masyarakat dunia melewati revolusi indutri 1.0, 2.0, 3.0, dan 4.0.

“Revolusi industri dimulai dari 1.0, yang mana pada masa itu kehidupan manusia masih berpindah-pindah atau menyebar (nomaden), masyarakat 2.0 manusia sudah tidak nomaden lagi, karena menemukan teknologi, terkenal dengan masyarakat pertanian, dikenal dengan masyarakat petani,” jelasnya.

“Pada masyarakat 3.0 ditemukannya berbagai mesin, masyarakat dibantu oleh mesin untuk melakukan sesuatu. Dikenal dengan masyarakat industri. Pada teknologi 4.0 ditemukan alat elektrik, diganti menjadi listrik, dikenal dengan nama masyarakat informasi,” tambah Dr. Eng. Hary Budiarto M.Kom., IPM.

Sama halnya dengan ciri-ciri dari revolusi industri 5.0. di mana masyarakatnya sudah bisa mengakses informasi setiap saat.

“Masyarakat 5.0 disebut dengan masyarakat informasi, dalam melakukan kegiatan selalu melihat informasi, bangun tidur yang dibuka hanphone,” tuturnya.

Sehingga dengan adanya hal itu, membuat masyarakat 5.0 perlu memiliki literasi dalam mengakses berbagai informasi yang ada.

“Masuknya teknologi digital, masyarakat ini harus bisa melakukan literasi digital,” pungkasnya.

Beliau juga menambahkan, bahwa untuk menuju revolusi industri 5.0 diperlukan SDM yang mumpuni.

“Untuk mencapai revolusi industri 5.0, Indonesia perlu mencapainya dengan memberikan pelatihan terkait literasi digital terhadap 9 juta masyakat di Indonesia. Sehingga Indonesia memiliki SDM yang berkualitas dan paham akan literasi digital,” imbuhnya.