You are currently viewing Peserta BKS PTN Barat Sambangi Sentra Tapis Negeri Katon, Kenalkan Kain Khas Lampung

Peserta BKS PTN Barat Sambangi Sentra Tapis Negeri Katon, Kenalkan Kain Khas Lampung

  • Post author:
  • Post last modified:2026-04-20

Peserta Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri (BKS PTN) Barat turun langsung ke sentra kain tapis di Desa Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran, dalam rangka pengabdian kepada masyarakat, Sabtu, 18 April.

Pengabdian ini berfokus pada pemberdayaan pengrajin melalui inovasi produk dan penguatan manajemen usaha.

Sejak pagi, rombongan peserta BKS PTN tampak berbaur dengan pengrajin. Mereka tidak hanya mendengar paparan, tetapi juga ikut melihat proses menenun kain tapis yang selama ini dikenal sebagai warisan budaya Lampung.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Pesawaran, Razak, mengatakan Negeri Katon dikenal sebagai kampung tapis Provinsi Lampung.

“Negeri Katon ini memang dikenal sebagai kampung tapis yang masih mempertahankan tradisi,” tuturnya.

Ia menilai kunjungan seperti ini penting untuk mendorong pelestarian sekaligus meningkatkan nilai ekonomi kerajinan lokal.

Di lokasi yang sama, Dekan FISIP Unila, Prof. Dr. Anna Gustina Zainal, S.Sos., M.Si., mengatakan pembuatan tapis bukan pekerjaan singkat.

“Satu kain bisa memakan waktu dua minggu sampai satu bulan, tergantung motif dan tingkat kesulitannya,” ujarnya.

Prof. Anna menceritakan bahwa proses yang panjang tersebut menjadi konsekuensi terhadap harga jual tapis yang relatif tinggi.

Meski begitu tantangan tidak hanya pada produksi, tetapi juga pada pemasaran dan penguatan identitas produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Dalam kegiatan ini pula, peserta dikenalkan pada potensi lain daerah Pesawaran, seperti kuliner khas dan peluang wisata. Namun, fokus utama tetap pada bagaimana kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan masyarakat dapat membuka ruang pengembangan usaha berbasis kearifan lokal.

Menariknya, usai mengikuti rangkaian kegiatan, para peserta turut membeli berbagai produk tapis yang telah dikreasikan menjadi baju, tas, hingga aksesoris.

Produk-produk tersebut dibawa sebagai oleh-oleh saat mereka kembali ke universitas masing-masing sebagai bentuk dukungan langsung terhadap pengrajin. (Taufik Hidayah).