You are currently viewing Promosi Doktor ke-18 Program Studi Pembangunan FISIP Unila Angkat Model Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Repong Damar

Promosi Doktor ke-18 Program Studi Pembangunan FISIP Unila Angkat Model Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Repong Damar

  • Post author:
  • Post last modified:2026-06-15

Bandar Lampung – Program Doktor Studi Pembangunan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung kembali meluluskan doktor baru melalui pelaksanaan Ujian Promosi Doktor yang digelar pada tahun akademik 2025/2026. Dalam sidang tersebut, Mansur Hidayat berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Repong Damar: Studi Tradisi Keagamaan dan Kearifan Lokal dalam Pembangunan Berkelanjutan pada Masyarakat Lampung Pesisir Krui” dan resmi menjadi Doktor ke-18 Program Doktor Studi Pembangunan FISIP Universitas Lampung.

Sidang promosi dipimpin oleh Prof. Dr. Anna Gustina Zainal, S.Sos., M.Si. selaku Ketua Sidang dan didampingi Dr. Robi Cahyadi Kurniawan, S.IP., M.A. sebagai Sekretaris. Tim promotor terdiri atas Dr. Bartoven Vivit Nurdin, S.Sos., M.Si. sebagai Promotor dan Prof. Dr. Syarief Makhya, M.Si. sebagai Ko-promotor.

Sementara itu, tim penguji yang turut memberikan penilaian dalam sidang promosi doktor tersebut terdiri atas Prof. Dr. H. Syanifuddin Basyar, M.Ag., Prof. Intan Fitri Meutia, S.A.N., M.A., Ph.D., Dr. Dra. Handi Mulyaningsih, M.Si., Dr. Arif Sugiono, S.Sos., M.Si., dan Dr. Dedy Hermawan, S.Sos., M.Si.

Dalam disertasinya, Mansur Hidayat mengkaji sistem Repong Damar pada masyarakat Lampung Pesisir Krui sebagai model alternatif pembangunan berkelanjutan. Penelitian tersebut berangkat dari kritik terhadap paradigma pembangunan modern yang dinilai cenderung eksploitatif serta kurang memperhatikan keseimbangan ekologis, sosial budaya, dan nilai religius masyarakat lokal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pengelolaan Repong Damar tidak semata-mata didorong oleh pertimbangan ekonomi, tetapi juga dibentuk oleh sistem nilai religius-ekologis yang hidup dalam masyarakat. Nilai-nilai teo-ekologi Islam berperan sebagai landasan etis dan spiritual yang mengatur hubungan manusia dengan alam, sementara kearifan lokal masyarakat Krui menjadi institusi sosial-ekologis yang menopang tata kelola hutan secara berkelanjutan.

Penelitian ini juga menemukan bahwa integrasi antara nilai agama dan kearifan lokal menghasilkan sistem keberlanjutan yang bersifat holistik. Bagi masyarakat Krui, menjaga kelestarian hutan tidak hanya dipahami sebagai kebutuhan lingkungan, tetapi juga sebagai kewajiban moral dan religius yang diwariskan secara turun-temurun.

Melalui penelitian tersebut, Mansur Hidayat menawarkan model pembangunan berkelanjutan yang integratif berbasis teo-ekologi dan kearifan lokal. Temuan ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu pembangunan sekaligus menjadi referensi dalam perumusan kebijakan pembangunan yang lebih adaptif terhadap nilai budaya, agama, dan kearifan lokal masyarakat.

Keberhasilan ini menjadi salah satu kontribusi Program Doktor Studi Pembangunan FISIP Universitas Lampung dalam menghasilkan lulusan yang mampu mengembangkan perspektif pembangunan yang kontekstual, berkelanjutan, dan relevan dengan tantangan masyarakat Indonesia. (TMF).