You are currently viewing Fatoni Raih Gelar Doktor Lewat Riset Penanganan Stunting Berbasis Kearifan Lokal Megou Pak

Fatoni Raih Gelar Doktor Lewat Riset Penanganan Stunting Berbasis Kearifan Lokal Megou Pak

  • Post author:
  • Post last modified:2026-07-14

Bandar Lampung – Program Doktor kembali melahirkan doktor baru melalui penyelenggaraan Ujian Terbuka Promosi Doktor atas nama Fatoni yang berlangsung pada Selasa, 14 Juli 2026. Sidang terbuka yang dihadiri tim promotor, dewan penguji, sivitas akademika, serta tamu undangan tersebut menjadi tahapan akhir penyelesaian studi doktoral Fatoni.

Dalam sidang promosi tersebut, Fatoni mempertahankan disertasinya yang berjudul “Deliberasi Formulasi Kebijakan Penanganan Stunting Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Adat Megou Pak di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung.”

Melalui penelitian ini, Fatoni mengangkat pentingnya pendekatan deliberatif dalam proses formulasi kebijakan publik untuk penanganan stunting. Menurutnya, keberhasilan kebijakan tidak hanya ditentukan oleh aspek teknokratis dan intervensi pemerintah, tetapi juga oleh keterlibatan aktif masyarakat melalui pemanfaatan nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Penelitian tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, tokoh adat, tenaga kesehatan, hingga masyarakat adat Megou Pak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses deliberasi yang melibatkan seluruh unsur tersebut mampu menghasilkan kebijakan yang lebih kontekstual, inklusif, serta berkelanjutan karena disusun sesuai dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat.

Salah satu kontribusi utama disertasi ini adalah penguatan pendekatan berbasis kearifan lokal “Mangan Bangek” sebagai modal sosial dalam mendukung percepatan penurunan stunting. Pendekatan tersebut dinilai mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat, meningkatkan partisipasi warga dalam program kesehatan, serta memperkuat efektivitas implementasi kebijakan pemerintah daerah.

Temuan penelitian ini diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kebijakan publik, tetapi juga menjadi referensi praktis bagi pemerintah daerah dalam merancang strategi penanganan stunting yang lebih adaptif terhadap karakteristik sosial dan budaya masyarakat. Model kebijakan yang ditawarkan juga berpotensi diterapkan di daerah lain yang memiliki nilai-nilai budaya lokal yang kuat.

Selama pelaksanaan ujian terbuka, dewan penguji memberikan berbagai masukan, kritik, serta apresiasi terhadap kedalaman analisis, kebaruan penelitian, dan relevansi tema yang diangkat dengan tantangan pembangunan kesehatan masyarakat saat ini. Diskusi akademik berlangsung dinamis dan konstruktif, mencerminkan kualitas penelitian yang mampu menghubungkan perspektif akademik dengan kebutuhan nyata di masyarakat.

Keberhasilan Fatoni mempertahankan disertasinya menjadi bukti komitmen perguruan tinggi dalam mendorong lahirnya penelitian yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberikan solusi bagi berbagai persoalan pembangunan. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu referensi dalam pengembangan kebijakan penanganan stunting berbasis kearifan lokal, sekaligus menginspirasi sivitas akademika untuk terus menghasilkan karya ilmiah yang inovatif dan berdampak bagi pembangunan daerah maupun nasional.