You are currently viewing Unila Mendunia: Evaluasi Kinerja Kerjasama Hexahelix Genjot Akselerasi Fakultas Menuju World Class University

Unila Mendunia: Evaluasi Kinerja Kerjasama Hexahelix Genjot Akselerasi Fakultas Menuju World Class University

  • Post author:
  • Post last modified:2025-11-12

Bandar Lampung, 11 November 2025 — Universitas Lampung (Unila) mempertegas pijakan globalnya melalui rapat koordinasi bertajuk “Evaluasi dan Profil Capaian Kinerja Kerjasama Berbasis Model Hexahelix.” Agenda strategis di Ruang Sidang Lantai 2 Rektorat ini dipimpin WR IV, Prof. Dr. Ayi Ahadiat, S.E., M.B.A., bersama dekan–wakil dekan, Ketua LPPM, dan jajaran kepala biro. Intinya tegas: mempercepat efek domino kolaborasi lintas simpul agar fakultas–program studi menjadi penggerak utama menuju World Class University.

“Unila yang mendunia harus diakselerasi dari fakultas berbasis program studi. Dampaknya nyata: satu kemitraan melahirkan rangkaian artikel terindeks, buku ajar, sampai inovasi. Itulah efek domino yang wajib kita ciptakan,” ujar Prof. Ayi Ahadiat. Senada, dengan itu, menyampaikan himbauan Dekan FISIP Unila, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerjasama, Prof. Dr. Noverman Duadji, M.Si. menekankan jejaring sebagai jembatan peradaban akademik—ruang pertukaran gagasan, keunggulan, dan budaya ilmiah yang melayani kemajuan umat manusia.

Anyaman kolaborasi Unila digarap sebagai rantai nilai utuh: dimulai dari MoU, diturunkan ke Implementation Agreement (IA), lalu dijaga agar bermuara pada output terukur. Secara kelembagaan, terkumpul 376 kerja sama; 127 sudah valid sebagai dokumen IKU-6 (LaporKerma), 115 berada pada tahap perbaikan, dan 134 belum menyampaikan laporan—semuanya disapu dalam skema percepatan validasi agar segera masuk hitungan kinerja. Dalam bingkai ini, bobot IKU-6 = 0,3, mencakup 76 program studi, dengan skor kinerja IKU-6 internal = 0,5013—landasan yang realistis untuk didorong menembus target WCU.

Pada tataran fakultas, FISIP menampilkan peta kontribusi yang jelas: 25 kerja sama tercatat, 6 dokumen sudah valid (≈ 24% dari total KS), 12 sedang perbaikan, dan 7 belum melaporkan—sementara total MoU FISIP telah mencapai 27. Maknanya gamblang: stok kemitraan FISIP sudah melimpah, sehingga pekerjaan rumah ada pada penyelesaian perbaikan dan penuntasan pelaporan agar cepat naik status menjadi valid IKU-6—yang kemudian membuka jalan ke publikasi bereputasi, buku ajar, prototipe inovasi, paten, serta mobilitas internasional.

Kerangka Hexahelix—universitas, pemerintah, industri, komunitas, media, dan diaspora/mitra global—digerakkan serempak agar riset dan pengabdian berkelindan dengan adopsi industri, dukungan kebijakan, relevansi sosial, visibilitas publik, dan skala internasional. Dari MoU yang rapi dan IA yang presisi, lahirlah aliran keluaran beruntun: grant → konsorsium riset → artikel terindeks → buku ajar → paten/startup → pertukaran dosen–mahasiswa. Kunci pengungkitnya ada pada disiplin tercatat, terverifikasi, terlaporkan: dokumentasi yang presisi membuat dampak mudah dibuktikan, celah cepat tertutup, pembelajaran lintas unit bisa ditularkan, dan akreditasi terdongkrak dengan bukti yang tak terbantahkan.

Untuk menutup kesenjangan dalam 90 hari, Unila menggerakkan langkah kilat yang menyatu: audit portofolio KS per prodi (tujuan–indikator–tenggat) dengan target validasi bulanan; SOP percepatan (template bukti, daftar cek, PIC, SLA 7×24 jam per siklus koreksi); rapat klinis mingguan berbagi playbook validasi lintas fakultas (FISIP dapat mengadopsi praktik unggul dari fakultas dengan laju validasi lebih tinggi); kontrak kinerja triwulan yang mewajibkan ≥1 output terukur per KS (artikel terindeks atau produk ajar/inovasi); serta amplifikasi karya melalui BPHM dan kanal internasional agar multiplier effect—grant, konsorsium, dan sitasi—kian kuat.

Pada akhirnya, validasi bukan sekadar administrasi, melainkan paspor karya untuk melintasi batas. Saat laporan tertib, data berbicara; saat data berbicara, dunia mendengar. Dari MoU yang matang dan IA yang tertunaikan, Unila melangkah mantap menuju panggung global.

Bunga mekar di taman rektorat,
Harumnya mengajak asa bekerja.
Tertibkan berkas, gerakkan kolaborasi cepat,
Unila mendunia—berkah bagi semesta