You are currently viewing Wamendagri Bima Arya dan Wagub Jihan Soroti Tantangan Pembangunan di Seminar BKS PTN Barat

Wamendagri Bima Arya dan Wagub Jihan Soroti Tantangan Pembangunan di Seminar BKS PTN Barat

  • Post author:
  • Post last modified:2026-04-17

Seminar Nasional Badan Kerja Sama (BKS) Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Barat FISIP Unila menghadirkan Wakil Menteri Dalam Negeri Dr. Bima Arya Sugiarto, S.I.P., Μ.Α. dan Wakil Gubernur Lampung dr. Jihan Nurlela, M.M. membahas tantangan pembangunan berkelanjutan serta optimalisasi bonus demografi, Jum’at 17 April.

Seminar nasional yang berlangsung dengan durasi satu jam, Seminar menjadi bagian dari rangkaian agenda BKS PTN Wilayah Barat bidang ilmu sosial.

Dalam pemaparannya, Wakil Gubernur Lampung, dr. Jihan Nurlela, M.M, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam mendorong pembangunan berkelanjutan.

Jihan menyebut Lampung saat ini berada pada fase puncak bonus demografi dengan sekitar 70 persen penduduk berada pada usia produktif.

“Ini peluang besar, tetapi harus dikelola dengan baik. Bonus demografi hanya akan berdampak jika didukung kebijakan yang tepat dan kolaborasi semua pihak,” ujar Jihan.

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Lampung saat ini mencapai 5,28 persen atau berada di atas rata-rata nasional, dengan kontribusi terbesar masih berasal dari sektor pertanian sebesar 24 persen. Namun, ia mengakui tantangan utama masih terletak pada minimnya hilirisasi, sehingga banyak komoditas dijual dalam bentuk bahan mentah.

Menurutnya, pemerintah Provinsi Lampung telah mendorong sejumlah program strategis seperti Desaku Maju, penguatan perhutanan sosial, hingga penggunaan pupuk organik cair guna menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Selain itu, capaian indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Lampung telah mencapai 75 persen atau 161 dari 214 indikator. Meski demikian, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah seperti peningkatan angka partisipasi pendidikan, pekerja formal, serta pengelolaan limbah industri.

Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri, Dr. Bima Arya Sugiarto, S.I.P., Μ.Α, menyoroti bahwa tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah memaksimalkan bonus demografi menuju Indonesia Emas.

Wamen Bima, mengingatkan bahwa momentum tersebut memiliki batas waktu yang diperkirakan hanya tersisa 10 hingga 15 tahun.

“Kalau kita gagal memanfaatkan bonus demografi, kita akan tetap terjebak sebagai negara berpendapatan menengah,” kata Bima.

Bima menambahkan, keberhasilan negara seperti China, Singapura, Korea Selatan, Jepang, hingga Vietnam dalam melompat menjadi negara maju ditopang oleh empat faktor utama, yakni konsistensi visi nasional, kemandirian ekonomi, kepemimpinan efektif, serta kolaborasi dan inovasi.

Menurutnya, tantangan Indonesia justru terletak pada lemahnya sinkronisasi kebijakan antar sektor serta minimnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan akademisi dalam proses perencanaan pembangunan.

“Tanpa kolaborasi, inovasi tidak akan lahir. Kampus harus menjadi bagian dari proses pembangunan, bukan hanya penonton,” tegasnya (Taufik Hidayah)